Silakan kunjungi situs kami yang baru di www.lpmhayamwuruk.com. Untuk aktivitas update berita akan dilanjutkan di alamat yang baru. Blog ini akan tetap ada dan tidak dihapus. Di website LPM Hayamwuruk yang baru, rubrik lebih beragam dan pembaca bisa bergabung sebagai kontributor lpmhayamwuruk.com. Terima kasih atas kunjungan anda.
Baca Selengkapnya......Senin, Maret 30, 2009
Selasa, Januari 06, 2009
Temu Keluarga Besar LPM Hayamwuruk
Untuk Alumni LPM Hayamwuruk
di manampun berada
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga kami selaku pengelola LPM Hayamwuruk masih diberikan kekuatan untuk melanjutkan komunitas ini hingga hari ini.
Sebagai sebuah komunitas yang telah memiliki umur yang tak lagi remaja, LPM Hayamwuruk telah berhasil mengantarkan sejumlah kadernya berkiprah di media, maupun ranah yang lebih luas di masyakarakat.
Memang, keberhasilan para kader dalam menapaki profesinya bukan atas peran Hayamwuruk semata. Namun setidaknya, sekecil apapun kontribusinya, mereka yang pernah mengalami suka dan dukanya di Hayamwuruk, akan mengenangnya sebagai “rumah” yang pernah turut membesarkannya.
Dalam kesempatan yang berbahagia ini, segenap pengelola LPM Hayamwuruk mengundang kawan-kawan alumni untuk kembali sejenak menengok “rumah” yang dulu pernah turut membesarkan kawan-kawan itu, dalam acara Raker IX LPM Hayamwuruk dan Temu Komunitas Hayamwuruk pada:
Hari/Tanggal :Minggu, 11 Januari 2009
Pukul : 09.00 Wib – selesai
Tempat : Padepokan Komunitas Sendang Mulyo
Jl. Bougenvile Raya II/26 Perumnas Sendangmulyo, Semarang
Mengingat pentingnya acara ini, seluruh alumni yang pernah menjadi bagian komunitas Hayamwuruk diharapkan kehadirannya. Atas perhatian dan kesediaan kawan-kawan untuk hadir dalam acara itu, kami sampaikan terima kasih.
Informasi lebih lengkap hubungi:
Telp. 024-70417418
Mobile: 085727017937 (erwin)
Raker IX LPM Hayamwuruk
Satu-satu daun berguguran/jatuh kebumi dimakan usia/tak terdengar tangis, tak terdengar tawa/redalah, reda…//Satu-satu tunas muda bersemi/mengisi hidup gantikan yang tua/tak terdengar tangis, tak terdengar tawa/redalah… reda… //Waktu terus bergulir/semuanya mesti terjadi/daun-daun berguguran/tunas-tunas muda bersemi…(Satu, Iwan Fals).
Sebagai sebuah komunitas, keberlangsungan LPM Hayamwuruk tak lepas dari kerja bersama setiap komponennya. Masing-masing komponen bukan lagi bagian yang asing, melainkan satu kesatuan yang kesemuanya telah turut memberikan andil.
Sebagai sebuah komunitas yang telah memiliki umur yang tak lagi remaja, LPM Hayamwuruk telah melewati masa keemasan hingga masa yang memprihatinkan. Tiap periode punya masanya sendiri-sendiri, dan tentu pula; punya tantantangan yang berbeda.
Sebagaimana dilantunkan Iwan Fals dalam tembangnya “Satu”, pada akhirnya tiap orang dalam komunitas ini akan datang dan pergi. Pengelola lama akan digantikan generasi baru. Semuanya mesti terjadi dan tak perlu ditangisi. Pergantian ini justru untuk memberikan kesempatan kepada para tunas baru untuk berperan dan berproses secara lebih maksimal dengan terlibat menjadi pengelola LPM Hayamwuruk.
Dalam kesempatan yang berbahagia ini, kami mengundang seluruh anggota LPM Hayamwuruk untuk menghadiri Raker IX LPM Hayamwuruk dan Temu Alumni Hayamwuruk yang akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Jumat - Minggu, 9 - 11 Januari 2009
Tempat : Padepokan Komunitas Sendang Mulyo
Jl. Bougenvile Raya II/26 Perumnas Sendangmulyo, Semarang
Atas perhatian dan kesediaan kawan-kawan untuk hadir dalam acara itu, kami sampaikan terima kasih.
informasi selengkapnya hubungi:
Erwin: 085727017937
Selasa, Desember 09, 2008
Majalah Hayamwuruk: Fenomena Sastra Islami
Fenomena Sastra Islami, antara Pro dan Kontra. Ada 6 tulisan dalam laporan utama: Sukses Berkat Tokoh Malaikat, Karena Sastra Bukan Khotbah Jumat, Terjerat Rayuan Sastra Islami, Seks, Anak Haram Sastra Islami, Dihujat karena Melanggar Tabu dan Serat Centhini: Sastra Islam atau Bukan. Wawancara utama Abdul Hadi WM, Faruk HT dan Binhad Nurrohmat. Wawancara lepas ada Danarto, Gus Mus, Faisal Kamandobat dan Komunitas Matapena.
Laporannya dijamin komplit-plit. Mendalam dan disajikan dengan cara bertutur yang memikat.
Dalam laporan khusus ada kabar undip menuju universitas riset. Ada tiga tulisan menyorot topik ini. Anda bisa mengunduhnya dalam versi pdf. Ada sekitar 116 halaman. Silakan cantumkan email anda di komentar di bawah ini. Kami akan memberikan secara cuma untuk mahasiswa sastra undip, maupun yang sudah alumni.
Untuk di luar sivitas akamedika sastra undip, anda bisa memiliki Hayamwuruk versi pdf seharga Rp 7.500 saja.
Yang ingin memesan versi cetak, khusus warga sastra undip cuma menanggung biaya pengiriman. Untuk umum, harga majalah (Rp 10ribu) plus biaya kirim.
Selasa, Oktober 07, 2008
Bedah Buku "Mengutamakan Rakyat" dan "Menembus Batas"
Mayor Jenderal TNI Saurip Kadi memang bukan seorang jenderal populer. Kendati begitu, di kalangan militer dan elite politik negeri ini, pria kelahiran 18 Januari 1951, di Brebes, Jawa Tengah ini, namanya cukup dikenal. Ia dikenal sebagai orang yang kerap bersuara vokal terhadap institusinya sendiri: Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Mantan asisten teritorial KSAD ini mulai menjadi buah bibir khalayak, selepas mencuatnya kasus Dokumen Bulak. Dokumen ini dikabarkan berisi reposisi para petinggi di tubuh militer itu, kabarnya dibahas di kediaman Saurip. Antara lain, oleh Saurip, mantan Pangkostrad Letjen Agus Wirahadikusumah, Bondan Gunawan, mantan Sekretaris Pengendalian Pemerintahan dan sejumlah figur lainnya. Setelah heboh dokumen itu, Saurip kemudian dicopot dari pos asisten teritorial KSAD. Ia dimutasikan ke Yayasan Kartika Eka Paksi, salah satu yayasan di bawah TNI AD.
LPM Hayamwuruk bekerjasama dengan Komunitas Hysteria, akan menghadirkan langsung jenderal pendiunan asal Brebes itu dan juga Liem Siok Lan untuk membedah buku "Mengutamakan Rakyat" dan "Menembus Batas". Buku yang pertama merupakan hasil wawancara Liem Siok Lan dengan Mayor Jendral TNI Saurip Kadi, sementara buku 'Menembus Batas' adalah hasil wawancara Liem Siok Lan dengan beberapa tokoh berpengaruh.
Dalam buku tersebut, Saurip banyak mengungkapkan keburukan pemerintah masa lalu dan kebobrokan pemerintah masa kini. Apakah itu artinya ia bersiap untuk maju dalam bursa Pilpres 2009? Jika benar, maka Saurip adalah satu diantara sekian banyak jenderal yang mengimpikan perbaikan negeri ini melalui kekuasaan. Ada Wiranto, ada Prabowo dan jenderal lain yang kini sudah mulai ancang-ancang ikut Pilpres.
Acara akan digelar pada Jumat (7/11) mulai pukul 09.00 Wib di Joglo Fakultas Sastra Undip. Diskusi dan bedah buku ini terbuka untuk umum. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Gema Yudha (081575339498).
Rabu, April 23, 2008
Diskusi Buku: Jadilah Intelektual Progresif
LPM Hayamwuruk akan kembali mengadakan diskusi buku dengan mengundang penulisnya. Buku "Jadilah Intelektual Progresif" kami pilihkan sebagai bahan diskusi yang akan digelar pada Selasa, 29 April 2008 di Joglo Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dari pukul 09.00 WIB - selesai.
Buku ini mengetengahkan isu yang tengah aktual di kalangan mahasiswa dan dunia akademis pada umumnya yang minim melakukan pergerakan. Padahal, bukankah sudah banyak buku yang telah dibaca oleh para mahasiswa, sudah banyak diskusi dan wacana melintas dalam keseharian mereka, tapi mengapa belum ada tindaklanjutnya?
Nah, buku ini dibedah sekaligus untuk mencari jawaban atas pertanyaan di atas. Semoga diskusi kali ini tak hanya berakhir pada adu wacana di forum, tapi lebih jauh dari itu, diharapkan dapat menggerakkan kita bersama untuk bergerak. Bertindak sesuatu yang dibutuhkan oleh lingkungan kita, masyarakat dan negara.
Apakah kita mau dikatakan sebagai kaum intelektual yang tak punya nyali?
Catat tanggal mainnya:
Hari/Tanggal: Selasa, 29 April 2008
Waktu: 09.00 WIB - selesai
Tempat: Joglo Fakultas Sastra Undip
Pembicara :
1. Eko Prasetyo (Penulis buku "Jadilah Intelektual Progresif, Orang Miskin Dilarang Sekolah, dll)
2. Husain Matla (Penulis Buku Demokrasi Tersandera, dll)
Info lebih lanjut, silakan hubungi kawan Gema Yudha (081575339498).
Senin, Februari 25, 2008
Mangrove Cultivation (MC) 2008
KeSEMaT, sebuah organisasi pemerhati lingkungan hidup akan mengadakan "Mangrove Cultivation (MC) 2008: Penyuluhan dan Pembibitan Mangrove. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada 14 – 16 Maret 2008.
Seperti yang disampaikan dalam siaran persnya kepada redaksi LPM Hayamwuruk, kegiatan tersebut selain untuk memberikan keterampilan kepada masyarakat dan mahasiswa tentang metode pembibitan mangrove yang benar juga bertujuan untuk menyelamatkan pesisir pantai Teluk Awur Jepara dari abrasi.
Selain itu, MC 2008 juga berguna untuk mendidik masyarakat dan mahasiswa akan arti penting ekosistem mangrove bagi kehidupan mereka.
MC 2008 akan diwarnai dengan berbagai kegiatan seperti seminar bertema Global Warming, susur pantai, pengenalan spesies mangrove, fun games, api unggun, ramah-tamah, pembibitan mangrove di Arboretum KeSEMaT, nonton bareng film mangrove, sunset photo session, bersih pantai dan masih banyak lagi.
Peserta terbatas, dan akan mendapatkan fasilitas berupa transport Semarang-Jepara pulang pergi, penginapan, makan-minum, snack, T-Shirt, stiker, seminar kit, sertifikat dan door prize.
Bagi masyarakat yang berminat mengikuti kegitan ini, pendaftaran dibuka mulai
tanggal 8 Februari sampai dengan 8 Maret 2008. Harga tiket Rp. 70.000,-. Formulir
pendaftaran bisa didapatkan di Kantor KeSEMaT Semarang dan Kampus Ilmu Kelautan UNDIP Semarang.
Bagi yang berada di luar Semarang, Anda bisa mendaftarkan diri melalui email
KeSEMaT di kesemat@yahoo.com dengan subject: registrasi MC 2008, yang
disertai dengan formulir pendaftaran yang bisa didownload di http://kesemat-online.tripod.com/formmc08.pdf
Info selengkapnya silakan hubungi:
menghubungi langsung Saudara Sunanto
Kusuma P. +628564 1377 533 atau telepon
ke KeSEMaTPHONE +6224 7052 7552. Mari
bersama selamatkan mangrove kita. Sekarang!
Jumat, Februari 22, 2008
Selamat untuk Kawan Gema Yudha
Puji syukur, salah seorang kawan kami, pengelola LPM Hayamwuruk menjadi salah satu pemenang lomba puisi cinta yang diadakan oleh tabloid Nyata. Dari informasi panitia, lomba ini diikuti oleh 6000-an peserta, lalu dipilih 200 puisi yang dianggap terbaik. Sampai tahap ini panitia tak diberitahu siapa pemilik puisi itu. Yang dipilih adalah puisi dan tanpa mempertimbangkan siapa penulisnya.
Ya, kami turut senang sekaligus bangga karena salah seorang kawan kami, teman senasib dan seperjuangan berhasil keluar sebagai salah satu pemenangnya. Puisi kawan Gema yang diberi judul "Dzikir Air" dinobatkan sebagai salah satu puisi terpuji. Puisi ini sebelumnya pernah dimuat di Newsletter Hawe Pos, salah satu lini produk LPM Hayamwuruk. Silakan baca di sini.
Untuk lebih lengkapnya, berikut ini adalah nama-nama pemenangnya:
1. Sajak buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli, M. Aan Mansyur, Makassar.
2. Lunto Kloof, Cinta Pertama yang Gagal Kuselamatkan, Y. Thendra BP, Yogyakarta.
3. Aku melihatmu Menanti di Depan Rumah, Ni Kadek Ayu Winastri, Kuta-Bali.
4. Kidung Perpisahan, Herry Trunajaya BS, Balikpapan Selatan.
5. Merah jambu Selendang Ibu, Thowaf Zuharon, Yogyakarta.
6. Pernikahan, M Anshor Sja’roni, Waru, Sidoarjo.
PERAIH KARYA TERPUJI
(masing-masing Rp 700 ribu)
1. Dalam Sekental Kopi, Hamiddin, Sumenep-Madura.
2. Dan Ini Cinta Tuhan, Lindung Ratwiawan, Malang.
3. Kau Bagiku, Ala Roa, Yogyakarta.
4. Requiem: Senyum Berkabung, Kukuh Yudha Karnanta, Surabaya.
5. Aku Ingin Menjadi Tua, Rozakky, Bangkalan-Madura.
6. Ibu, Aulia Muhammad, Semarang.
7. Ziarah Cinta, Nurul Iva Yulia Imawan, Randudongkal-Pemalang.
8. Sajak Berlayar, Surasono Rashar, Lumajang.
9. Mawarilah Aku, S. Yoga, Ngawi.
10. Sepucuk Rinduku Padamu, Nak, Suharyono, Pati.
11. Pelukan, M. Aan Mansyur, Makassar.
12. Malam Pinangan, M. Badri, Bogor.
13. Tiga Soneta Cinta untuk Oneta, Ifull Azka Zulkifliy, Cirebon.
14. Hutan Kepala, Joko Gesang Santoso, Sleman-Yogyakarta.
15. Aku Perempuan Pelamarmu, Putri hati Ningsih, Laweyan-Sala.
16. Bacakan Aku Satu Puisi Cinta, Pay Jarot Sujarwo, Pontianak.
17. Cinta di Tanah Perang, Alimuddin, Darussalam-Aceh Besar.
18. Bayi, Hariqo Wibawa Satria, Bukittinggi-Sumatera Barat.
19. Uterus, Kedung Darma Romansha, Indramayu-Jabar.
20. Komposisi Kau dan Aku, Indrayani Puspitasari, Surabaya.
21. Petak Umpet, Didi Arisandi, Lampung.
22. Dzikir Air, Gema Yudha, Bandung.
Kenapa yang diberi tanda warna merah ada dua. Ternyata, dari sekian nama pemenang itu ada juga salah seorang alumni LPM Hayamwuruk. Siapa dia?
Kamis, Januari 10, 2008
Diperlukan Kajian Khusus Sastra Terjemahan
Liputan diskusi bedah buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" #2
Usulan menarik disampaikan oleh Siswo Harsono dalam diskusi bedah buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" (8/1). Menurutnya, dewasa ini banyak sekali buku-buku sastra hasil terjemahan yang bisa dengan mudah ditemukan di rak-rak toko buku, namun hingga kini belum ada satu kajian khusus terhadap karya-karya sastra hasil terjemahan itu.
Kajian secara khusus ini perlu, mengingat banyaknya karya-karya terjemahan, namun hingga kini belum ada perhatian secara khusus dari pihak akademisi atau kritikus.
"Masalahnya, kita akan meletakkan buku ini di rak mana. Di jurusan Sastra Inggris Undip tak ada satu kajian tentang sastra terjemahan. Seharusnya ini diperlukan. Bisa dibuka untuk Jurusan Sastra Inggris maupun Sastra Indonesia".
Ketika sebuah karya diterjemahkan, sebenarnya pada saat itu pula hasil terjemahan sudah menjadi produk baru. Dalam hal ini menerjemahan sama halnya mencipta ulang. Ia sudah terkontaminasi oleh subyektivitas, selera dan kepentingan-kepentingan penerjemah.
Menerjemahkan karya sastra seperti halnya menerjemahkan bidang-bidang lain, tak hanya memindahkan bahasa sumber ke bahasa target. Namun lebih jauh dari itu, penerjemah harus mampu memindahkan atau yang paling mungkin mencarikan padanannya dalam kebudayaan pengguna bahasa target sehingga pembaca karya terjemahan bisa merasakan kehadiran bahasa dan situasi cerita secara lebih dekat.
Dalam kasus penerjemahan karya sastra, akan banyak dijumpai istilah-istilah yang sulit bahkan tak bisa dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Misal, akan kita sebut apa "Burung Hering" yang terdapat dalam salah satu cerpen EdgarAllan Poe, dalam kamus perburungan yang dikenal oleh orang Indonesia.
"Apakah kita bisa menyebutnya dengan burung gagak?" tanya Siswo
Selain itu, Siswo juga mengritik beberapa bagian yang hilang yang membuat kesatuan dalam buku itu menjadi rusak. Mula-mula ia memberikan catatan pada cover, apakah lukisan karikatur di sampul itu berdifat ikonis atau indeksikal. Bagian yang hilang yakni adalah alusi nietchzean yang seharusnya dipertahankan. Ini akan mampu menjelaskan bagaimana Poe bisa keluar dari penderitaan.
Mengenai penerjemahan dalam buku ini, Aulia memberikan masukan agar penerjemah berani menerjemahkan teks dengan tidak terikat dari teks asal. Menerjemah tidak cukup memindahkan kata atau mencari padanan. Tapi lebih jauh dari itu, bagaimana bisa memindahkan impresi-impresi saat membaca karya tersebut ke dalam hasil terjemahan.
Menanggapi kritikan-kritikan dari para pembicara, Tia Setiadi justru merasa berterima kasih kepada kedua pembicara yang menurutnya sangat kritis. "Dari dua kali diskusi buku yang diadakan di Yogya dan Solo, baru kali ini saya mendapatkan kritikan yang pedas. Ini forum yang paling cerdas," katanya.
Namun demikian, baginya dalam penerjemahan tetap akan ada yang hilang dan semuanya tak bisa seperti asalnya. Dan ia mengatakan, penulisan biografi dari sumber terjemahan belum banyak dilakukan di Indonesia bahkan dia berani mengklaimnya sebagai penulis yang pertema melakukannya.
Ia mengakui menyusun buku ini sebagai upaya untuk membuat dokumentasi proses kreatif para penulis yang menurutnya tradisi ini di Indonesia masih sangat kurang.
Sebelum buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" ini, dia sudah menerjemahkan buku pelukis Van Gogh yang hidupnya juga amat dramatis. Setelah buku yang kedua ini dia merencanakan akan membuat seri yang sama, yakni biografi penyair Amerika Walt Whitman.
Apa yang dilakukan oleh Tia Setiadi ini adalah usaha yang patut diapresiasi. Buku ini memberikan kontribusi yang amat berharga untuk khasanah sastra di negeri ini. Apa yang dilakukannya sangat berbalik arah dengan mereka yang menggarap buku yang dipastikan akan banyak pembacanya karena mengangkat topik-topik populer. Sementara buku ini kecil kemungkinan untuk mendapatkan pembaca dari kalangan luas. Tak salah memang jika Tia menulisnya karena kecintaan.
Baca tulisan terkait:
- Posisi Karya Sastra Terjemahan Kita
Rabu, Januari 09, 2008
Biografi yang ditulis karena kekaguman
Laporan Diskusi Bedah Buku "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya.
Tak dipungkiri, buku biografi "Edgar Allan Poe dan Sepilihan Karyanya" yang disusun oleh Tia Setiadi menyuguhkan data-data yang cukup detail. Buku ini merekam penyair, cerpenis cum essais asal Amerika itu yang menjalani hidup dengan narasi yang dramatis.
Bahkan diakui oleh Siswo Harsono, dosen Jurusan Sastra Inggris Undip yang menjadi pembicara dalam acara bedah (8/1), apa yang disampaikan dalam buku itu jauh lebih dramatis dari kehidupan Poe yang sebenarnya.
Aulia Muhammad, pembicara satunya pun mengatakan hal yang sama, narasi dalam buku ini sangat menyedihkan tapi tak ada data yang kuat yang menunjukkan kesedihan tokoh yang diceritakan itu.
Aulia menduga, buku ini ditulis dari rasa kecintaan si penyusun kepada Poe. Ini bisa dilihat dari karya-karya yang dpilih maupun urutan penyajiannya. Menurut Aulia sebenarnya tak ada yang istimewa dengan penderitaan, kemiskinan bagi seseorang yang ingin total dalam kesenian.
"Poe dalam buku ini ditampilkan cengeng sekali, tak punya duit masih saja merengek minta uang dari orang tua," katanya.
Celakanya, hal itu dilihat oleh penulis sebagai hal yang wajar dan memberikan pemakluman. Harusnya itu tampak sikap yang aneh. Lain halnya, jika biografi ini tidak ditulis dalam satu arah (pemujaan), bisa ditampilkan sisi-sisi lain yang kontra dari Poet sehingga bisa ditampilkan biografi yang lebih berimbang.
Aulia bisa memahami jika penyajian itu adalah hak dari si penyusun. Namun Ia memberi masukan, sebaiknya perlu data-data yang kuat untuk mendukung argumentasi yang hendak dibawa oleh penyusun buku. Dan data-data yang ditunjukkan itu data-data yang berkaitan tidak terjebak pada detail-detail yang bertele-tele.
Tia Setiadi yang masih berstatus mahasiswa semester akhir di Jurusan Sosiologi UGM itu mengakui jika dia sengaja memilih dengan pandangan subyektifnya mengenai karya-karya yang ditampilkan dalam bukunya. Menuruntnya buku itu sengaja disajikan dengan bahasa dan bahasan yang lebih populer karena dia ingin menjangkau pembaca yang lebih luas, tidak hanya berasal dari kalangan yang mengerti sastra. [Zumala]
